“Nikah muda itu nggak seru. Masih muda sudah repot ngurusin anak dan suami, belum lagi pekerjaan rumah. Gak banget deh!” pikirku yang waktu itu masih kelas 1 SMK. Lucu aja kalau ingat betapa apatisnya aku terhadap pernikahan karena di otakku yang ada cuma main, bersenang-senang, dan menikmati masa muda. Sampai akhirnya beberapa bulan setelah lulus SMK, aku menikah dengan pacarku yang aku kenal dari kelas 2 SMP sampai saat ini yang sudah dikaruniai 3 orang anak perempuan yang cantiknya seperti penyanyi Isyana, tidak setara dengan wajah buluk ibunya.
Saat menikah, umurku masih 18 tahun. Sungguh cobaan berat bagiku yang bahkan kesulitan untuk membedakan ketumbar dan merica. Kesan pertama memiliki suami ternyata lumayan seru. Bisa tinggal serumah 24 jam bersama seorang pria tanpa takut digrebek warga. Tidak perlu takut saat mimpi seram, karena disampingku ada yang jauh lebih seram, eh bukan, maksudnya ada yang nemenin waktu tidur. Apalagi dia rela bilang masakanku enak padahal rasanya kayak sampah daur ulang. Juga gak perlu khawatir waktu suami digodain mas-mas feminim diluar sana karena dia udah punya sertifikat bebas homo (baca : buku nikah).
Bulan-bulan awal pernikahan masih manis. Seperti gulali yang nempel di gigi dan susah lepasnya. Lama-lama, dia mengeluarkan sifat asli yang entah selama ini bersembunyi di mana. Aku mulai melihatnya mengigau saat malam, berkeliaran di dalam rumah hanya dengan memakai panties, dan aib-aib lainnya yang tidak akan muat disebutkan di sini. Mentalku yang masih berumur belasan tahun tentu terusik dengan pemandangan seperti itu.
Contohnya saja, sifat marahnya terhadapku, saat barang-barang kesayangannya terancam. Saat itu di suatu pagi yang cerah aku sedang menjemur pakaian di dalam mesin cuci yang sudah diproses sedemikian rupa sehingga menghasilkan kedelai hitam yang berkualitas (maaf, itu tagline kecap). Saat pakaiannya tinggal sedikit, tiba-tiba aku menemukan tripod gorilla yang berbahan plastik tergeletak tak berdaya dengan satu kaki patah di dasar mesin cuci. Lalu insting Sherlock Holmes-ku muncul. Setelah menulusuri TKP, mendeteksi sidik jari, dan memasang garis polisi di sekitar mesin cuci (gak gitu juga sih), aku menemukan siapa pelaku dibalik pembunuh tripod tersebut.
Tak lama kemudian, aku mendatangi suami. Lalu membangunkannya dengan penuh kasih sayang, seraya berkata,
” Ini kenapa tripod bisa di dalem mesin cuci, sayang?! Tu lihat kakinya yang satu patah! Untung udah bersih!”
Suami melek dengan setengah sadar dan menjawab,” Biarin, nanti aku panggilin tukang service tv,” lalu dia terlelap kembali dalam dekapan 1 liter air liur. Aku masih terdiam kebingungan. Mungkin dia menjawabnya sambal ngigau.
Beberapa jam kemudian, dia bangun dan menemukan tripod dengan kaki yang patah, mata suamiku melotot, mulutnya menganga, kentutnya tertahan. Benar saja apa yang kupikirkan kalau tadi masih mengigau. Dia menghampiriku dengan wajah seram yang lebih seram dari kecoa terbang. Lalu bertanya,
“Ini kenapa bisa sampai patah gini?! Pasti kamu buat selfi sampek patah ya?!”
Dengan kedataran muka yang hakiki, aku menjawab,” Suamiku yang paling ganteng, sabar dulu ya. Tadi tripodnya aku nemu udah terkapar di mesin cuci. Aku sih gak pernah kepikiran buat nyuci tripod, siapa lagi kalau bukan kamu, masa Pak RT?”
Tidak terima dengan kenyataan bahwa dia salah, dia tetap mencoba mencari tersangka lain,
“Ya tetep aja. Sekarang, siapa yang nyuci? Kamu sih, nyuci baju kok gak dilihat-lihat? Masa langsung dimasukin semua dari keranjang baju? Harusnya kamu liat dulu dong!”
Tangan kananku langsung mengelus dada, berusaha sabar, dengan tangan kiri di belakang punggung memegang cambuk. Akhirnya aku meminta maaf.
“Iya, maaf ya sayang. Aku salah, harusnya aku pilah-pilah dulu gak langsung aku masukin semua ke mesin cuci. Tapi kamu lain kali juga jangan masukin barang aneh-aneh ke keranjang pakaian ya. Masih untung itu tripod murah bukan tabung gas LPG,” jelasku. Akhirnya terlihat sedikit senyum yang tertahan di bibirnya. Sungguh percekcokan kecil yang kekanak-kanakan pikirku
Sampai sekarangpun, aku masih sulit memahami jalan fikiran suamiku yang abstrak. Sekarang ini umurku 26 tahun, dan dia 28 tahun. Umur yang terbilang muda memang dengan pernikahan yang dikaruniai 3 orang anak. Karena itu tidak jarang terpikir soal perpisahan dikepalaku. Untungnya, disetiap perselisihan selalu mengharuskan salah satu dari kami untuk mengalah.
Jauh di dalam hati, aku ataupun dia hanya menginginkan pernikahan sekali dalam seumur hidup. Karena sesulit apapun yang kami jalani di masa muda ini adalah proses mendewasakan diri untuk menjadi orang tua yang jauh lebih baik. Jadi, apa masih ada dari kalian yang berpikir nikah muda itu gak seru? Coba deh sendiri biar tau serunya.

Suka gaya berceritamu, Inaa...
BalasHapusWqwq harusnya sing ngisi seminar nikah muda itu kamu. Sudah terverifikasi delapan tahun, bukan tiga minggu atau satu bulan...
Tengkyu Poppy..
Hapuswaduh, kalo ngisi seminar justru isinya bukan mengedukasi tapi cuma melarang kayaknya entar hahaha.
Aku sebagai pelaku nikah muda termasuk orang yang kontra soalnya hahaha.