Kita berdialog di ruang yang sama. Berbaur dengan aroma jamu herbal
dari terapismu dan aroma besi tabung oksigen. Padahal sebenarnya
rumah kita tidak kekurangan udara sedikitpun, tapi hati itu terlalu
enggan untuk bersetubuh dengan limpahan oksigen.
Ragamu
tegak dihadapanku, tatapanmu sendu. Kosong. Hanya badan yang duduk
dengan perut buncit dan pertanyaan, “Ayah, mati itu seperti apa?”
lalu ayah menjawab,” Seperti kita pindah rumah. Kamu tetap hidup
dan beraktivitas hanya saja di tempat yang berbeda.” Aku terdiam.
Masih dalam proses mencerna jawaban ayah yang sederhana, namun
menyisakan luka pada pertanyaanmu.
Sialnya,
otakku mengajakku kembali mengingat banyak hal. Seperti karnaval band
yang tak sengaja kita lihat bersama, timezone di sebuah mall, memilah
bahan kue yang paling murah, dan banyak hal yang tak mugkin
kusebutkan. Kau adalah anak 11 tahun dengan banyak cita-cita dan aku
ingat semuanya. Polisi, Wara, Chef, penulis, hingga seorang dokter.
Mungkin jika kau hidup di zaman ini, cita-citamu bisa berubah
menjadi Youtuber. Mengingat kau memiliki kemampuan yang disebut-sebut
indigo, kau dapat menghasilkan banyak viewers dengan memamerkan
kemampuanmu.
Tapi
Sang Pencipta tahu, kau terlalu cerdas untuk itu. Dia mengurangi
fungsi hatimu agar tidak terasa sakit saat kau melepaskan raga.
Mengososngkan isi paru-parumu, mengisinya dengan udara kebebasan.
Membuatmu tak dapat menapak bumi, lalu kau dapat melompat tinggi.
Sangat tinggi hingga mencapai surga.
Hari
ini adalah 174.960 hari sejak pertemuan terakhir kita. Seolah baru
saja aku melihat senja kemerahan itu bersamamu kemarin. Seperti kata
ayah, kau sudah berpindah ke tempat lain. Yang pastinya jauh lebih
baik hingga tak ingin kembali. Aku bahkan menitipkan beberapa kalimat
pada Tuhan agar bisa merasakan tawamu dari sini dan aku percaya
pada-Nya
Maaf,
sudah merepotkanmu dengan menyuruhmu membersihkan telingaku, maaf
tidak membelikanmu milkshake vanilla seminggu sebelum kepindahanmu,
dan maaf karena di hembusan nafasmu yang singkat, kau harus menjadi
adik dari wanita tertolol yang pernah kau lihat. Tunggu saja, suatu
saat nanti jika aku menyusulmu dan melihat wajah sendu itu jadi penuh
tawa, aku pasti akan mencubit kedua pipimu dan berkata,”kerja bagus
dik.”
Aku
atau siapapun pasti pernah kehilangan orang yang tersayang dalam
hidupnya. Tapi kenanglah mereka, jangan dilupa, jangan ditangisi
terlalu lama. Memang tidak ada yang lebih jahat dari rindu yang tak
mungkin bisa bertemu selama nafas berhembus. Yang pergi biarlah pergi
dan melihatmu sesekali, tapi yang tinggal harus tetap singgah dan
memulai hidup yang lebih indah.
Ya setidaknya dengan tulisan ini, aku ingat kapau aku pernah menjadi seorang kakak.
Ya setidaknya dengan tulisan ini, aku ingat kapau aku pernah menjadi seorang kakak.

;(
BalasHapusKomentar yang tepat untuk ini adalah terdiam ...
BalasHapuslha ini kok komentar, gak diam? haha
Hapus