Selasa, 06 Oktober 2020

Menjawab Pertanyaan : Gimana Rasanya Nikah Muda? Ini Ceritaku.






“Nikah muda itu nggak seru. Masih muda sudah repot ngurusin anak dan suami, belum lagi pekerjaan rumah. Gak banget deh!” pikirku yang waktu itu masih kelas 1 SMK. Lucu aja kalau ingat betapa apatisnya aku terhadap pernikahan karena di otakku yang ada cuma main, bersenang-senang, dan menikmati masa muda. Sampai akhirnya beberapa bulan setelah lulus SMK, aku menikah dengan pacarku yang aku kenal dari kelas 2 SMP sampai saat ini yang sudah dikaruniai 3 orang anak perempuan yang cantiknya seperti penyanyi Isyana, tidak setara dengan wajah buluk ibunya.

Saat menikah, umurku masih 18 tahun. Sungguh cobaan berat bagiku yang bahkan kesulitan untuk membedakan ketumbar dan merica. Kesan pertama memiliki suami ternyata lumayan seru. Bisa tinggal serumah 24 jam bersama seorang pria tanpa takut digrebek warga. Tidak perlu takut saat mimpi seram, karena disampingku ada yang jauh lebih seram, eh bukan, maksudnya ada yang nemenin waktu tidur. Apalagi dia rela bilang masakanku enak padahal rasanya kayak sampah daur ulang. Juga gak perlu khawatir waktu suami digodain mas-mas feminim diluar sana karena dia udah punya sertifikat bebas homo (baca : buku nikah).

Bulan-bulan awal pernikahan masih manis. Seperti gulali yang nempel di gigi dan susah lepasnya. Lama-lama, dia mengeluarkan sifat asli yang entah selama ini bersembunyi di mana. Aku mulai melihatnya mengigau saat malam, berkeliaran di dalam rumah hanya dengan memakai panties, dan aib-aib lainnya yang tidak akan muat disebutkan di sini. Mentalku yang masih berumur belasan tahun tentu terusik dengan pemandangan seperti itu.

Contohnya saja, sifat marahnya terhadapku, saat barang-barang kesayangannya terancam. Saat itu di suatu pagi yang cerah aku sedang menjemur pakaian di dalam mesin cuci yang sudah diproses sedemikian rupa sehingga menghasilkan kedelai hitam yang berkualitas (maaf, itu tagline kecap). Saat pakaiannya tinggal sedikit, tiba-tiba aku menemukan tripod gorilla yang berbahan plastik tergeletak tak berdaya dengan satu kaki patah di dasar mesin cuci. Lalu insting Sherlock Holmes-ku muncul. Setelah menulusuri TKP, mendeteksi sidik jari, dan memasang garis polisi di sekitar mesin cuci (gak gitu juga sih), aku menemukan siapa pelaku dibalik pembunuh tripod tersebut.

Tak lama kemudian, aku mendatangi suami. Lalu membangunkannya dengan penuh kasih sayang, seraya berkata,

” Ini kenapa tripod bisa di dalem mesin cuci, sayang?! Tu lihat kakinya yang satu patah! Untung udah bersih!

Suami melek dengan setengah sadar dan menjawab,” Biarin, nanti aku panggilin tukang service tv,” lalu dia terlelap kembali dalam dekapan 1 liter air liur. Aku masih terdiam kebingungan. Mungkin dia menjawabnya sambal ngigau.

Beberapa jam kemudian, dia bangun dan menemukan tripod dengan kaki yang patah, mata suamiku melotot, mulutnya menganga, kentutnya tertahan. Benar saja apa yang kupikirkan kalau tadi masih mengigau. Dia menghampiriku dengan wajah seram yang lebih seram dari kecoa terbang. Lalu bertanya,

Ini kenapa bisa sampai patah gini?! Pasti kamu buat selfi sampek patah ya?!

Dengan kedataran muka yang hakiki, aku menjawab,” Suamiku yang paling ganteng, sabar dulu ya. Tadi tripodnya aku nemu udah terkapar di mesin cuci. Aku sih gak pernah kepikiran buat nyuci tripod, siapa lagi kalau bukan kamu, masa Pak RT?

Tidak terima dengan kenyataan bahwa dia salah, dia tetap mencoba mencari tersangka lain,

Ya tetep aja. Sekarang, siapa yang nyuci? Kamu sih, nyuci baju kok gak dilihat-lihat? Masa langsung dimasukin semua dari keranjang baju? Harusnya kamu liat dulu dong!

Tangan kananku langsung mengelus dada, berusaha sabar, dengan tangan kiri di belakang punggung memegang cambuk. Akhirnya aku meminta maaf.

Iya, maaf ya sayang. Aku salah, harusnya aku pilah-pilah dulu gak langsung aku masukin semua ke mesin cuci. Tapi kamu lain kali juga jangan masukin barang aneh-aneh ke keranjang pakaian ya. Masih untung itu tripod murah bukan tabung gas LPG,” jelasku. Akhirnya terlihat sedikit senyum yang tertahan di bibirnya. Sungguh percekcokan kecil yang kekanak-kanakan pikirku

Sampai sekarangpun, aku masih sulit memahami jalan fikiran suamiku yang abstrak. Sekarang ini umurku 26 tahun, dan dia 28 tahun. Umur yang terbilang muda memang dengan pernikahan yang dikaruniai 3 orang anak. Karena itu tidak jarang terpikir soal perpisahan dikepalaku. Untungnya, disetiap perselisihan selalu mengharuskan salah satu dari kami untuk mengalah.

Jauh di dalam hati, aku ataupun dia hanya menginginkan pernikahan sekali dalam seumur hidup. Karena sesulit apapun yang kami jalani di masa muda ini adalah proses mendewasakan diri untuk menjadi orang tua yang jauh lebih baik. Jadi, apa masih ada dari kalian yang berpikir nikah muda itu gak seru? Coba deh sendiri biar tau serunya.


Share:

Sabtu, 22 Februari 2020

Sia-Sia Saja

Kulukis secarik kertas dengan pena
hingga tercipta sebuah rupa
dan aku bisa merasa berdua
dengan separas luka

kutanam sebuah koin logam
berharap hasilnya bisa kugenggam
nyatanya air beriak tanda tak dalam

kutunggu dan kutunggu
sebuah penantian semu
namun hanya berbuah sembilu
juga dengan ragamu
yang sudah letih kupeluk rindu
menghasilkan jutaan cemburu
akhirnya berpaling tanpa ragu
Share:

Sabtu, 04 Januari 2020

Sebuah Catatan Seorang Kakak


Kita berdialog di ruang yang sama. Berbaur dengan aroma jamu herbal dari terapismu dan aroma besi tabung oksigen. Padahal sebenarnya rumah kita tidak kekurangan udara sedikitpun, tapi hati itu terlalu enggan untuk bersetubuh dengan limpahan oksigen.
Ragamu tegak dihadapanku, tatapanmu sendu. Kosong. Hanya badan yang duduk dengan perut buncit dan pertanyaan, “Ayah, mati itu seperti apa?” lalu ayah menjawab,” Seperti kita pindah rumah. Kamu tetap hidup dan beraktivitas hanya saja di tempat yang berbeda.” Aku terdiam. Masih dalam proses mencerna jawaban ayah yang sederhana, namun menyisakan luka pada pertanyaanmu.
Sialnya, otakku mengajakku kembali mengingat banyak hal. Seperti karnaval band yang tak sengaja kita lihat bersama, timezone di sebuah mall, memilah bahan kue yang paling murah, dan banyak hal yang tak mugkin kusebutkan. Kau adalah anak 11 tahun dengan banyak cita-cita dan aku ingat semuanya. Polisi, Wara, Chef, penulis, hingga seorang dokter. Mungkin jika kau hidup di zaman ini, cita-citamu bisa berubah menjadi Youtuber. Mengingat kau memiliki kemampuan yang disebut-sebut indigo, kau dapat menghasilkan banyak viewers dengan memamerkan kemampuanmu.
Tapi Sang Pencipta tahu, kau terlalu cerdas untuk itu. Dia mengurangi fungsi hatimu agar tidak terasa sakit saat kau melepaskan raga. Mengososngkan isi paru-parumu, mengisinya dengan udara kebebasan. Membuatmu tak dapat menapak bumi, lalu kau dapat melompat tinggi. Sangat tinggi hingga mencapai surga.
Hari ini adalah 174.960 hari sejak pertemuan terakhir kita. Seolah baru saja aku melihat senja kemerahan itu bersamamu kemarin. Seperti kata ayah, kau sudah berpindah ke tempat lain. Yang pastinya jauh lebih baik hingga tak ingin kembali. Aku bahkan menitipkan beberapa kalimat pada Tuhan agar bisa merasakan tawamu dari sini dan aku percaya pada-Nya
Maaf, sudah merepotkanmu dengan menyuruhmu membersihkan telingaku, maaf tidak membelikanmu milkshake vanilla seminggu sebelum kepindahanmu, dan maaf karena di hembusan nafasmu yang singkat, kau harus menjadi adik dari wanita tertolol yang pernah kau lihat. Tunggu saja, suatu saat nanti jika aku menyusulmu dan melihat wajah sendu itu jadi penuh tawa, aku pasti akan mencubit kedua pipimu dan berkata,”kerja bagus dik.”
Aku atau siapapun pasti pernah kehilangan orang yang tersayang dalam hidupnya. Tapi kenanglah mereka, jangan dilupa, jangan ditangisi terlalu lama. Memang tidak ada yang lebih jahat dari rindu yang tak mungkin bisa bertemu selama nafas berhembus. Yang pergi biarlah pergi dan melihatmu sesekali, tapi yang tinggal harus tetap singgah dan memulai hidup yang lebih indah.

Ya setidaknya dengan tulisan ini,  aku ingat kapau aku pernah menjadi seorang kakak. 

Share:

Jumat, 03 Januari 2020

Bulan Juga Berusaha


“Adakah satupun manusia di bumi ini merindukan bulan yang hanya mereka lihat saat ingat? Bulan yang biasa saja jarang diingat apalagi saat mencapai purnama? “ tanyaku kepada sebuah Chrisopogon ariculatus yang tumbuh subur di belakang rumah. Sembari menatap keluar jendela, malam terasa monoton. Terdengar sayup-sayup suara keramaian jalan raya yang sudah seperti makanan pendamping.
Aku melirik jam dinding, tepat pukul 10 malam. Angin sepoi-sepoi seraya meraba wajah. Masih kulihat purnama dengan seksama. Imajinasi bermain dengan sangat abstak seraya berfikir, ingatkah manusia akan pemandangan malam geratis yang bisa dilihat saat mendung tak bernaung? Entahlah. Aku sendri sering mengabaikannya.
Dalam sebuah artikel, aku membaca bagaimana perjuangan bulan terbentuk. Saat bumi menyapa theira dengan pelukan sekitar 3 miliyar tahun yang lalu, menghasilkan banyak debu yang mengorbit bumi, sampai akhrnya bulan terbentuk dari debu-debu yang menyatu. Butuh banyak perjuangan sampai manusia dapat menikmati hasilnya. Setiap malam meminta sedikit demi sedikit sinar matahari, sampai kami dapat melihatnya secara utuh.
Bulan saja berusaha untuk mencapai purnama. Aku? Jangankan untuk melihatnya, terkadang peduli saja tidak.
“Maaf karena sepanjang hidup aku juga berjuang untuk menjadi mungkin dari banyaknya ketidak mungkinan,”kataku pada bulan purnama yang melihatku pilu.
Tanpa kusadari 1 jam telah berlalu. Berdialog dengan bulan purnama yang jarang kulihat memang asik. Aku berjanji untuk menemuinya lagi tanpa menunggunya mencapai purnama. Ingin melihat bulan berjuang setiap harinya, mengemis cahaya pada matahari sedikit demi sedikit. Tak akan mempermasalahkan sisi gelapnya yang mana membantu ikan untuk melindunginya dari predator.
“Wahai bulan purnama, walau kau mempengaruhi penurunan kadar melatonin di tubuhku, aku akan menunggumu dibulan-bulan berikutnya. Mengurangi sedikit dari banyaknya kekecewaan Tuhan dengan mendoakan dan berusaha bersamamu setiap harinya.”

Share: