Di suatu senja yang menguning,
sepasang mata memandang manusia dengan segala retorikanya. Mereka
melihat sangat dalam dan menangis. Mata terpejam, dan menimbulkan
badai hebat di area faring. Kau tau, saat kau berusaha menahan
tangis lalu seperti ada yang tertahan di tenggorokanmu? Berarti badai
tengah terjadi di sana, entah itu tornado atau simoom.
Lalu hati membentak mata,” Hai
mata, hentikan kebodohanmu itu!”
Mata diam tak mengerti. Hati
mengumpat. Sementara mata semakin merintih. Ia mencari dan terus
mencari sambil melihat segala ketidak adilan yang terjadi menghempas
badan tuannya. Ia melirik penyesalan, mengintip kekesalan, dan
menatap segala kepedihan dihadapannya.
Hati tak kuasa menanggapi kebodohan
si mata. Ketika mata melihat segala kepedihan, hati terkena dampak
kehancurannya. Semakin lama mata menyaksikan pedih, ukuran hati
semakin mengecil dan mengecil hingga terbentuklah segala parasit
seperti iri, dengki, sampai ingin mati. Mata masih mencari-cari yang
ia cari, sehingga hati yang sedang terdesak pedih lagi-lagi berteriak
pada mata,
”Hentikan saja, bodoh! Hentikan!
Apa yang sedang kau cari?! Tidakkah kau tau aku tersiksa disini?!”
Lalu mata menjawab,” Aku mencari
kebahagiaan.”
Hati meminta mata untuk mengganti
sudut pandangnya. Mata mengikuti kata hati. Ia melihat senyum
sepasang tubuh paruh baya, pesona seorang pria, dan tawa dua orang
anak. Ia juga melihat esok hari dengan cerahnya matahari terbit, dan
memandangi tubuh tuannya yang masih lengkap dengan fungsi sempurna.
Mata masih tidak mengerti apa yang dimaksud hati.
Hati berkata,” Mengapa kau
mencari bahagia dengan sangat jauh? Dia tepat disekelilngmu. “
Mata menyadari sesuatu. Ia
melewatkan banyak hal. Ternyata bahagia sangatlah dekat, sedekat
jarak proxima centauri dengan bumi, bahkan jauh lebih dekat
lagi. Mungkin lebih tepatnya sedekat bulu mata dengan mata itu
sendiri. Kemudian mata memperjelas pandangannya. Bahagia itu ada
bersama senyum kedua orangtua tubuh tuannya, pesona suami yang
dicintainya, dan tawa kedua anaknya. Juga ada disaat melihat matahari
esok hari, bersama orang-orang tercinta, dan bahagia ikut serta saat
melihat tubuh si tuan mata dalam keadaan sehat.
Lalu mengapa selama ini mata susah
payah mencari kebahagian yang berada tepat disekelilingnya dan dengan
mudah melihat kepedihan diseberang? Karena dia melupakan hal yang
sangat penting yaitu fondasi untuk membangun sebuah kebahagiaan itu
sendiri, rasa syukur. Ini bukan hal fiktif dan sudah jelas terbukti.
Semakin mudah manusia mensyukuri suatu nikmat yang Tuhan berikan,
semakin mudah dia melihat bahagia disekelilingnya.

Gokiiiil,,,,😍
BalasHapus