Ketika
kau dan aku adalah jiwa. Kita bersama menghirup oksigen bumi. Aku dan
kau terlahir bersamaan dengan tangis keresahan akan dunia. Namun,
adakah setiap detiknya kita menyatu? Otakku menghasilkan segala upaya
untuk mengendalikan kau, namun hatiku selalu tak senada dangannya.
Mungkin terkadang kita menghasilkan irama yang sama namun kau ingin
lebih unggul dariku..
Berulang
kali aku mencoba untuk memulai skenario baru film hidupku. Namun kau
dan aku tak henti-hentinya berselisih tentang apa saja. Entah itu
langit mendung, pelangi dan koin emas, hingga jemari yang tersayat
pinggiran kertas.
Kau
dan aku sebenarnya punya keinginan yang sama. Hanya bahagia. Ini
menjadi sangat sulit mengingat tubuh dengan tutur paradox ini tidak
lagi dianggap seperti layaknya manusia. Mari kita diskusikan hal ini
sebentar, aku maupun kau takkan mencapai mufakat jika sisi negatifmu
lebih angkuh dari sisi positifmu
Jangan
berkata tidak, sebab kurasa sudah cukup dengan air mata, juga segala
bibit pilu yang kau semai di ladang hati. Tempat yang kau tinggali
itu terlampau sempit, tak akan memuat semuanya. Lagipula, akan ada
ribuan hama dendam dan kebencian yang berdatangan. Mari kita coba
hidroponik atau verticulture dan menggantinya dengan bibit motivasi
bahagia lebih banyak. Nanti kau dan aku akan membagi hasilnya dalam
waktu yang lama. Haha, sudah kuduga. Kau memang tak dapat menolak
kebahagiaan.
Tapi
berati-hatilah, ada yang lebih sulit dikendalikan dari teriknya
matahari pagi, yaitu otak yang tak berfikir jernih mengikuti arah
emosi pergi.

