Minggu, 03 Desember 2023

Sang Penurut

Jadi, siapa yang tidak bisa menurut

Pada perintah tuan?

Tubuh ini sudah menghamba

Hingga luka tak dirasa

Meski sudah menggema

Pada tebing-tebing luka

yang sudah menganga


Tidak bisakah hidup tubuh ini memiliki alamnya sendiri?

Sesekali memberontak akan jadi sanksi

Lalu, puan bisa apa? 

Selain menggali tanah dengan kuku kuku yang tuan panjangkan

Dan tuan asah hingga tajam

Agar pada saatnya

Bisa menghujam jantung puan sendiri


Nantinya dari jantung itu akan terdengar sayup-sayup senandung kesedihan

Atau bahkan kepingan2 cinta yg menjelma

Menjadi seribu hampa

Puan hanya menghamba

Karena tidak ada yang tersisa

Semua hanya milik tuan,

Bahkan raga,

Sudah dirampas dan dicabik sedemikian rupa

Share:

Selasa, 04 April 2023

Dikalahkan Realita

Cukup melelahkan
Melakukan hal yang belakangan dikatahui sia-sia
Tapi ketika tersadar,
Aku sudah jatuh terlalu dalam

Seolah tak ada jalan keluar
Merasa sangat sendirian
Berdiri di tengah permukaan laut,
namun semua ikan berada di dalam air
Seolah lebih baik tenggelam daripada terapung
tanpa arah

Kini keinginanku yang memuncak sudah mulai surut
Yang awalnya muluk-muluk
Kerja keras yang tak terbentuk
Hingga banyak penyakit merenggut
Namun kini sederhana
Hanya ingin ketenangan semata
Hidup damai dengan penuh cinta
Tanpa tuntutan mengejar dunia


Share:

Senin, 03 April 2023

Sebuah Tulisan Perempuan Biasa


Aku adalah seorang perempuan. Ya, ku tegaskan sekali lagi bahwa aku adalah seorang perempuan. Tidak ada yang spesial dariku, hanya perempuan biasa yang tidak punya harta ataupun kekuatan. Posisiku juga tidak berpengaruh di masyarakat. Hanya sebagaimana perempuan biasa yang ingin hidup menjalani kehidupan yang biasa saja tanpa banyak kekhawatiran.


Namaku Jani. Umur 28 tahun, lahir dan dibesarkan oleh keluarga TNI AU. Ayah seorang tentara yang sangat disiplin dan bunda adalah ibu rumah tangga yang penyayang tentunya. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara, setidaknya sampai adikku meninggal di usianya yang ke 11 tahun karena liver, aku adalah anak pertama dari dua bersaudara yang tidak ingin melepas title itu selamanya.


Meskipun ayahku seorang tentara, tapi beliau hanya berasal dari Tamtama atau prajurit tingkat dua, dengan upah minimum. Sayangnya kebanyakan orang di desanya tidak tahu bahwa sebagian besar tentara ditingkat ini menghabiskan masa hidupnya dengan banyak cicilan. Mereka hanya paham bahwa tentara itu terlihat berwibawa dan mengira semua tentara hidup dengan sejahtera. Dengan gaji dan uang pensiunan yang mereka kira-kira sendiri mampu menghidupi keluarganya dengan berkecukupan. Padahal kenyataannya aku hanya mampu membeli baju baru saat menjelang lebaran setahun sekali. Itupun sudah termasuk pakaian dalam dan kaos untuk dipakai sehari-hari. Selain masa itu, gaji orang tuaku hanya cukup untuk bertahan hidup. Membayar uang makan, sekolah, dan cicilan-cicilan yang mereka pakai untuk membeli kendaraan dan rumah sederhana yang ditinggali setelah masa pensiun.


Untungnya bundaku adalah orang yang tidak terlalu suka menghamburkan uang. Beliau sosok ibu penyayang dengan watak sedikit keras seperti ibu pada umumnya. Ketika marah, beliau bisa berteriak sambil melebarkan matanya seperti yang dilakukan ibu singa pada anaknya yang tidak pandai berburu. Beliau tidak suka membeli perhiasan, lebih suka menabung dalam bentuk uang yang dimasukkan ke dalam amplop-amplop coklat panjang dan diselipkan di tengah-tengah lipatan baju di lemari. Tidak seperti anaknya yang hanya tahu bagaimana cara menghabiskan uang, bunda sangat suka menabung dan menyimpan uangnya bahkan di saat gajinya sangat menipis.


Sedangkan aku sendiri, saat ini berumur 28 tahun, sudah menikah dan memiliki empat anak perempuan yang cantiknya luar biasa mengambil gen dari wajah tampan ayahnya. Jadi tak heran ketika aku mengantar anak pertamaku sekolah di sebuah kelompok bermain di daerah perumahan TNI AU, para wali murid mengira aku adalah seorang baby sitter yang mengantar anak seorang perwira. Mereka heran bagaimana bisa seorang ibu dengan muka pas-pasan dan kulit sawo matang agak busuk mengantar seorang anak yang berkulit putih dan cantik begitu.


Aku menikah di usia 18 tahun, tanpa membawa harta sepeserpun atau harta orang tuaku. Malah, awal menikah aku masih tinggal bersama mereka sampai memiliki dua anak. Bahkan orang tuaku membantu biaya kuliahku yang tak kunjung selesai sampai cerita ini dibuat. Itupun karena mereka ingin melihatku lulus sarjana. Ketika anak pertamaku berumur 6 bulan, adikku meninggal dunia dan menghancurkan dunia orang tuaku. Mereka seperti tidak punya lagi semangat untuk hidup karena satu-satunya alasan terbesar mengapa mereka masih semangat mencari uang adalah untuk pengobatan anak keduanya. Jadi setelah beberapa bulan adikku meninggal, ayah menyuruhku untuk melanjutkan kuliah di sebuah universitas negeri berbasis online (agar aku bisa tetap mengurus anak dan berkuliah) dan beliau yang membiayainya.


Lagi lagi ku katakan bahwa aku adalah seorang perempuan biasa. Selain tidak memiliki harta, aku juga tidak memiliki aset atas namaku sendiri. Seperti kendaraan yang aku naiki atas nama suami. Mungkin siapapun yang membaca tulisan ini, akan berpikir bahwa aku adalah perempuan nekat, yang menikah muda tanpa otak dan bisa seenaknya hidup di bawah kaki suami. Memang tidak salah juga, karena aku tidak berkarir, hanya ibu rumah tangga biasa yang mengandalkan uang dari gaji suami.


***


Najwa Shihab, seorang jurnalis ternama di Indonesia yang sudah jadi panutanku dari umur 16 tahun.  Siapa yang tidak tahu dia, ataupun namanya yang terbalut dalam sebuah produk Mata Najwa. Dia adalah panutan yang ingin ku ikuti jejaknya dari masa SMK. Menjadi seorang jurnalis perempuan, mengangkat polemik-polemik yang terjadi pada perempuan, kritis, cerdas, dan berani.


Aku pernah melihatnya secara langsung di sebuah acara di Universitas Muhammadiyah Malang. mataku berbinar dalam hati aku berkata bahwa suatu saat aku akan berada di posisinya, secerdas dan seberani dia dan disinilah aku sekarang. Membuat sebuah tulisan fiksi yang digemari tidak terlalu banyak orang, sambil menyeka pup anak bayiku dengan fisik yang semakin menua.


Setahun setelah melihat Najwa Shihab secara langsung, aku menikah dan setahun setelahnya, aku memiliki anak pertama. Lalu dua tahun kemudian, anak kedua, empat tahun kemudian, anak ketiga, dan dua tahun setelahnya anak keempat. Ketika Najwa Shihab terus berkarir dan bersinar, aku meredup dibalik ketiak anak-anakku. Sambil pelan-pelan meneruskan kuliah dan cuti beberapa tahun, dan kuliah lagi sampai aku muak sendiri dengan mata kuliah jurusan Sastra Inggris yang tidak terlalu kupahami. Aku mencintai Sastra bahkan menyetubuhinya, tapi tidak dengan Bahasa Inggris. Tidak ada seorangpun yang bisa kuajak berbicara atau membetulkan grammar juga terlalu minder untuk praktik  dengan sembarangan orang. Jadi aku hanya mengerti ketika melihat orang lain berbicara Bahasa Inggris, tapi gagap ketika menjawab sebuah pertanyaan mudah.


Ketika Najwa Shihab bertemu orang-orang besar dan mewawancarainya, aku bertemu dengan baby blues dan depresi postpartum, juga berjuang keras melawan diriku sendiri. Saat dia menyuarakan tentang ‘Susahnya Jadi Perempuan’, aku menjadi perempuan paling lemah tanpa kekuatan apapun. 


***


Sekarang akan kuberi tahu bagaimana rasanya hidup menjadi perempuan tanpa harta ataupun aset, tanpa keberanian, dan tidak punya pengaruh sama sekali. Diskriminasi sudah menjadi makanan sehari-hari. JIka perempuan di luar sana bisa berbicara soal pekerjaan, karir, mimpi, dan cita-cita dengan bebas, maka sebagai perempuan menikah dan memiliki anak, akan dianggap sebagai keegoisan. Bagaimana bisa seorang perempuan yang sudah memiliki anak masih bermimpi untuk mengejar karirnya sendiri? Siapa yang akan mengurus anaknya? Ah, dia hanya malas dan tidak suka mengerjakan pekerjaan rumah. Percayalah, kata-kata seperti ini sudah penuh dan nyaris membusuk di telingaku. 


Bahkan, perkataan soal feminisme di tempatku adalah hal sensitif yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai agama dan dapat menimbulkan pertengkaran. Beberapa orang disekitarku menganggap bagaimanapun wanita tidak bisa setara dengan laki-laki karena fisik sudah berbeda. Anggapan bahwa perempuan lebih lemah dari laki-laki bukan hal tabu. Pekerjaan domestik pastinya sudah harus menjadi rutinitas yang jika aku mengabaikannya karena kondisiku sakit atau mental yang sedang tidak stabil, akan dianggap sebagai sebuah perilaku salah yang fatal.


Tidak ada poin penting dalam tulisan ini, hanya kata-kata yang tidak lebih dan tidak kurang seperti sebuah curahan. Percayalah, aku tahu kalau aku yang tidak punya kekuatan ini sama sekali tidak spesial. Yang kupunya hanya kata-kata. Aku sering merasa bahwa ketika sedang menulis, aku menjadi manusia super di duniaku sendiri. Segala diskriminasi dan perlakuan rendah yang kualami seperti anjing menggonggong yang mayatnya berlalu. Biar saja, mereka melakukannya sepuas mereka. Aku akan tetap di sini, menulis sesuka hati, sampai nanti bisa membuahkan hasil dan membungkam perilaku kejam siapapun.


Jadi, untuk kalian wanita yang sepertiku, aku tidak akan menyuruh kalian sabar. Jadilah superhero versi terbaik kalian sendiri. Kalian semua punya kekuatan super yang mungkin belum kalian temukan di manapun letaknya. Ah, sudahlah. Sekali lagi aku adalah perempuan dan tulisan ini tidak lebih dan tidak kurang hanya seperti sebuah curahan. Kuharap suatu saat bisa kubaca dan kuingat lagi kenangannya.


Share:

Selasa, 06 Oktober 2020

Menjawab Pertanyaan : Gimana Rasanya Nikah Muda? Ini Ceritaku.






“Nikah muda itu nggak seru. Masih muda sudah repot ngurusin anak dan suami, belum lagi pekerjaan rumah. Gak banget deh!” pikirku yang waktu itu masih kelas 1 SMK. Lucu aja kalau ingat betapa apatisnya aku terhadap pernikahan karena di otakku yang ada cuma main, bersenang-senang, dan menikmati masa muda. Sampai akhirnya beberapa bulan setelah lulus SMK, aku menikah dengan pacarku yang aku kenal dari kelas 2 SMP sampai saat ini yang sudah dikaruniai 3 orang anak perempuan yang cantiknya seperti penyanyi Isyana, tidak setara dengan wajah buluk ibunya.

Saat menikah, umurku masih 18 tahun. Sungguh cobaan berat bagiku yang bahkan kesulitan untuk membedakan ketumbar dan merica. Kesan pertama memiliki suami ternyata lumayan seru. Bisa tinggal serumah 24 jam bersama seorang pria tanpa takut digrebek warga. Tidak perlu takut saat mimpi seram, karena disampingku ada yang jauh lebih seram, eh bukan, maksudnya ada yang nemenin waktu tidur. Apalagi dia rela bilang masakanku enak padahal rasanya kayak sampah daur ulang. Juga gak perlu khawatir waktu suami digodain mas-mas feminim diluar sana karena dia udah punya sertifikat bebas homo (baca : buku nikah).

Bulan-bulan awal pernikahan masih manis. Seperti gulali yang nempel di gigi dan susah lepasnya. Lama-lama, dia mengeluarkan sifat asli yang entah selama ini bersembunyi di mana. Aku mulai melihatnya mengigau saat malam, berkeliaran di dalam rumah hanya dengan memakai panties, dan aib-aib lainnya yang tidak akan muat disebutkan di sini. Mentalku yang masih berumur belasan tahun tentu terusik dengan pemandangan seperti itu.

Contohnya saja, sifat marahnya terhadapku, saat barang-barang kesayangannya terancam. Saat itu di suatu pagi yang cerah aku sedang menjemur pakaian di dalam mesin cuci yang sudah diproses sedemikian rupa sehingga menghasilkan kedelai hitam yang berkualitas (maaf, itu tagline kecap). Saat pakaiannya tinggal sedikit, tiba-tiba aku menemukan tripod gorilla yang berbahan plastik tergeletak tak berdaya dengan satu kaki patah di dasar mesin cuci. Lalu insting Sherlock Holmes-ku muncul. Setelah menulusuri TKP, mendeteksi sidik jari, dan memasang garis polisi di sekitar mesin cuci (gak gitu juga sih), aku menemukan siapa pelaku dibalik pembunuh tripod tersebut.

Tak lama kemudian, aku mendatangi suami. Lalu membangunkannya dengan penuh kasih sayang, seraya berkata,

” Ini kenapa tripod bisa di dalem mesin cuci, sayang?! Tu lihat kakinya yang satu patah! Untung udah bersih!

Suami melek dengan setengah sadar dan menjawab,” Biarin, nanti aku panggilin tukang service tv,” lalu dia terlelap kembali dalam dekapan 1 liter air liur. Aku masih terdiam kebingungan. Mungkin dia menjawabnya sambal ngigau.

Beberapa jam kemudian, dia bangun dan menemukan tripod dengan kaki yang patah, mata suamiku melotot, mulutnya menganga, kentutnya tertahan. Benar saja apa yang kupikirkan kalau tadi masih mengigau. Dia menghampiriku dengan wajah seram yang lebih seram dari kecoa terbang. Lalu bertanya,

Ini kenapa bisa sampai patah gini?! Pasti kamu buat selfi sampek patah ya?!

Dengan kedataran muka yang hakiki, aku menjawab,” Suamiku yang paling ganteng, sabar dulu ya. Tadi tripodnya aku nemu udah terkapar di mesin cuci. Aku sih gak pernah kepikiran buat nyuci tripod, siapa lagi kalau bukan kamu, masa Pak RT?

Tidak terima dengan kenyataan bahwa dia salah, dia tetap mencoba mencari tersangka lain,

Ya tetep aja. Sekarang, siapa yang nyuci? Kamu sih, nyuci baju kok gak dilihat-lihat? Masa langsung dimasukin semua dari keranjang baju? Harusnya kamu liat dulu dong!

Tangan kananku langsung mengelus dada, berusaha sabar, dengan tangan kiri di belakang punggung memegang cambuk. Akhirnya aku meminta maaf.

Iya, maaf ya sayang. Aku salah, harusnya aku pilah-pilah dulu gak langsung aku masukin semua ke mesin cuci. Tapi kamu lain kali juga jangan masukin barang aneh-aneh ke keranjang pakaian ya. Masih untung itu tripod murah bukan tabung gas LPG,” jelasku. Akhirnya terlihat sedikit senyum yang tertahan di bibirnya. Sungguh percekcokan kecil yang kekanak-kanakan pikirku

Sampai sekarangpun, aku masih sulit memahami jalan fikiran suamiku yang abstrak. Sekarang ini umurku 26 tahun, dan dia 28 tahun. Umur yang terbilang muda memang dengan pernikahan yang dikaruniai 3 orang anak. Karena itu tidak jarang terpikir soal perpisahan dikepalaku. Untungnya, disetiap perselisihan selalu mengharuskan salah satu dari kami untuk mengalah.

Jauh di dalam hati, aku ataupun dia hanya menginginkan pernikahan sekali dalam seumur hidup. Karena sesulit apapun yang kami jalani di masa muda ini adalah proses mendewasakan diri untuk menjadi orang tua yang jauh lebih baik. Jadi, apa masih ada dari kalian yang berpikir nikah muda itu gak seru? Coba deh sendiri biar tau serunya.


Share:

Sabtu, 22 Februari 2020

Sia-Sia Saja

Kulukis secarik kertas dengan pena
hingga tercipta sebuah rupa
dan aku bisa merasa berdua
dengan separas luka

kutanam sebuah koin logam
berharap hasilnya bisa kugenggam
nyatanya air beriak tanda tak dalam

kutunggu dan kutunggu
sebuah penantian semu
namun hanya berbuah sembilu
juga dengan ragamu
yang sudah letih kupeluk rindu
menghasilkan jutaan cemburu
akhirnya berpaling tanpa ragu
Share:

Sabtu, 04 Januari 2020

Sebuah Catatan Seorang Kakak


Kita berdialog di ruang yang sama. Berbaur dengan aroma jamu herbal dari terapismu dan aroma besi tabung oksigen. Padahal sebenarnya rumah kita tidak kekurangan udara sedikitpun, tapi hati itu terlalu enggan untuk bersetubuh dengan limpahan oksigen.
Ragamu tegak dihadapanku, tatapanmu sendu. Kosong. Hanya badan yang duduk dengan perut buncit dan pertanyaan, “Ayah, mati itu seperti apa?” lalu ayah menjawab,” Seperti kita pindah rumah. Kamu tetap hidup dan beraktivitas hanya saja di tempat yang berbeda.” Aku terdiam. Masih dalam proses mencerna jawaban ayah yang sederhana, namun menyisakan luka pada pertanyaanmu.
Sialnya, otakku mengajakku kembali mengingat banyak hal. Seperti karnaval band yang tak sengaja kita lihat bersama, timezone di sebuah mall, memilah bahan kue yang paling murah, dan banyak hal yang tak mugkin kusebutkan. Kau adalah anak 11 tahun dengan banyak cita-cita dan aku ingat semuanya. Polisi, Wara, Chef, penulis, hingga seorang dokter. Mungkin jika kau hidup di zaman ini, cita-citamu bisa berubah menjadi Youtuber. Mengingat kau memiliki kemampuan yang disebut-sebut indigo, kau dapat menghasilkan banyak viewers dengan memamerkan kemampuanmu.
Tapi Sang Pencipta tahu, kau terlalu cerdas untuk itu. Dia mengurangi fungsi hatimu agar tidak terasa sakit saat kau melepaskan raga. Mengososngkan isi paru-parumu, mengisinya dengan udara kebebasan. Membuatmu tak dapat menapak bumi, lalu kau dapat melompat tinggi. Sangat tinggi hingga mencapai surga.
Hari ini adalah 174.960 hari sejak pertemuan terakhir kita. Seolah baru saja aku melihat senja kemerahan itu bersamamu kemarin. Seperti kata ayah, kau sudah berpindah ke tempat lain. Yang pastinya jauh lebih baik hingga tak ingin kembali. Aku bahkan menitipkan beberapa kalimat pada Tuhan agar bisa merasakan tawamu dari sini dan aku percaya pada-Nya
Maaf, sudah merepotkanmu dengan menyuruhmu membersihkan telingaku, maaf tidak membelikanmu milkshake vanilla seminggu sebelum kepindahanmu, dan maaf karena di hembusan nafasmu yang singkat, kau harus menjadi adik dari wanita tertolol yang pernah kau lihat. Tunggu saja, suatu saat nanti jika aku menyusulmu dan melihat wajah sendu itu jadi penuh tawa, aku pasti akan mencubit kedua pipimu dan berkata,”kerja bagus dik.”
Aku atau siapapun pasti pernah kehilangan orang yang tersayang dalam hidupnya. Tapi kenanglah mereka, jangan dilupa, jangan ditangisi terlalu lama. Memang tidak ada yang lebih jahat dari rindu yang tak mungkin bisa bertemu selama nafas berhembus. Yang pergi biarlah pergi dan melihatmu sesekali, tapi yang tinggal harus tetap singgah dan memulai hidup yang lebih indah.

Ya setidaknya dengan tulisan ini,  aku ingat kapau aku pernah menjadi seorang kakak. 

Share:

Jumat, 03 Januari 2020

Bulan Juga Berusaha


“Adakah satupun manusia di bumi ini merindukan bulan yang hanya mereka lihat saat ingat? Bulan yang biasa saja jarang diingat apalagi saat mencapai purnama? “ tanyaku kepada sebuah Chrisopogon ariculatus yang tumbuh subur di belakang rumah. Sembari menatap keluar jendela, malam terasa monoton. Terdengar sayup-sayup suara keramaian jalan raya yang sudah seperti makanan pendamping.
Aku melirik jam dinding, tepat pukul 10 malam. Angin sepoi-sepoi seraya meraba wajah. Masih kulihat purnama dengan seksama. Imajinasi bermain dengan sangat abstak seraya berfikir, ingatkah manusia akan pemandangan malam geratis yang bisa dilihat saat mendung tak bernaung? Entahlah. Aku sendri sering mengabaikannya.
Dalam sebuah artikel, aku membaca bagaimana perjuangan bulan terbentuk. Saat bumi menyapa theira dengan pelukan sekitar 3 miliyar tahun yang lalu, menghasilkan banyak debu yang mengorbit bumi, sampai akhrnya bulan terbentuk dari debu-debu yang menyatu. Butuh banyak perjuangan sampai manusia dapat menikmati hasilnya. Setiap malam meminta sedikit demi sedikit sinar matahari, sampai kami dapat melihatnya secara utuh.
Bulan saja berusaha untuk mencapai purnama. Aku? Jangankan untuk melihatnya, terkadang peduli saja tidak.
“Maaf karena sepanjang hidup aku juga berjuang untuk menjadi mungkin dari banyaknya ketidak mungkinan,”kataku pada bulan purnama yang melihatku pilu.
Tanpa kusadari 1 jam telah berlalu. Berdialog dengan bulan purnama yang jarang kulihat memang asik. Aku berjanji untuk menemuinya lagi tanpa menunggunya mencapai purnama. Ingin melihat bulan berjuang setiap harinya, mengemis cahaya pada matahari sedikit demi sedikit. Tak akan mempermasalahkan sisi gelapnya yang mana membantu ikan untuk melindunginya dari predator.
“Wahai bulan purnama, walau kau mempengaruhi penurunan kadar melatonin di tubuhku, aku akan menunggumu dibulan-bulan berikutnya. Mengurangi sedikit dari banyaknya kekecewaan Tuhan dengan mendoakan dan berusaha bersamamu setiap harinya.”

Share: