Sabtu, 04 Januari 2020

Sebuah Catatan Seorang Kakak


Kita berdialog di ruang yang sama. Berbaur dengan aroma jamu herbal dari terapismu dan aroma besi tabung oksigen. Padahal sebenarnya rumah kita tidak kekurangan udara sedikitpun, tapi hati itu terlalu enggan untuk bersetubuh dengan limpahan oksigen.
Ragamu tegak dihadapanku, tatapanmu sendu. Kosong. Hanya badan yang duduk dengan perut buncit dan pertanyaan, “Ayah, mati itu seperti apa?” lalu ayah menjawab,” Seperti kita pindah rumah. Kamu tetap hidup dan beraktivitas hanya saja di tempat yang berbeda.” Aku terdiam. Masih dalam proses mencerna jawaban ayah yang sederhana, namun menyisakan luka pada pertanyaanmu.
Sialnya, otakku mengajakku kembali mengingat banyak hal. Seperti karnaval band yang tak sengaja kita lihat bersama, timezone di sebuah mall, memilah bahan kue yang paling murah, dan banyak hal yang tak mugkin kusebutkan. Kau adalah anak 11 tahun dengan banyak cita-cita dan aku ingat semuanya. Polisi, Wara, Chef, penulis, hingga seorang dokter. Mungkin jika kau hidup di zaman ini, cita-citamu bisa berubah menjadi Youtuber. Mengingat kau memiliki kemampuan yang disebut-sebut indigo, kau dapat menghasilkan banyak viewers dengan memamerkan kemampuanmu.
Tapi Sang Pencipta tahu, kau terlalu cerdas untuk itu. Dia mengurangi fungsi hatimu agar tidak terasa sakit saat kau melepaskan raga. Mengososngkan isi paru-parumu, mengisinya dengan udara kebebasan. Membuatmu tak dapat menapak bumi, lalu kau dapat melompat tinggi. Sangat tinggi hingga mencapai surga.
Hari ini adalah 174.960 hari sejak pertemuan terakhir kita. Seolah baru saja aku melihat senja kemerahan itu bersamamu kemarin. Seperti kata ayah, kau sudah berpindah ke tempat lain. Yang pastinya jauh lebih baik hingga tak ingin kembali. Aku bahkan menitipkan beberapa kalimat pada Tuhan agar bisa merasakan tawamu dari sini dan aku percaya pada-Nya
Maaf, sudah merepotkanmu dengan menyuruhmu membersihkan telingaku, maaf tidak membelikanmu milkshake vanilla seminggu sebelum kepindahanmu, dan maaf karena di hembusan nafasmu yang singkat, kau harus menjadi adik dari wanita tertolol yang pernah kau lihat. Tunggu saja, suatu saat nanti jika aku menyusulmu dan melihat wajah sendu itu jadi penuh tawa, aku pasti akan mencubit kedua pipimu dan berkata,”kerja bagus dik.”
Aku atau siapapun pasti pernah kehilangan orang yang tersayang dalam hidupnya. Tapi kenanglah mereka, jangan dilupa, jangan ditangisi terlalu lama. Memang tidak ada yang lebih jahat dari rindu yang tak mungkin bisa bertemu selama nafas berhembus. Yang pergi biarlah pergi dan melihatmu sesekali, tapi yang tinggal harus tetap singgah dan memulai hidup yang lebih indah.

Ya setidaknya dengan tulisan ini,  aku ingat kapau aku pernah menjadi seorang kakak. 

Share:

Jumat, 03 Januari 2020

Bulan Juga Berusaha


“Adakah satupun manusia di bumi ini merindukan bulan yang hanya mereka lihat saat ingat? Bulan yang biasa saja jarang diingat apalagi saat mencapai purnama? “ tanyaku kepada sebuah Chrisopogon ariculatus yang tumbuh subur di belakang rumah. Sembari menatap keluar jendela, malam terasa monoton. Terdengar sayup-sayup suara keramaian jalan raya yang sudah seperti makanan pendamping.
Aku melirik jam dinding, tepat pukul 10 malam. Angin sepoi-sepoi seraya meraba wajah. Masih kulihat purnama dengan seksama. Imajinasi bermain dengan sangat abstak seraya berfikir, ingatkah manusia akan pemandangan malam geratis yang bisa dilihat saat mendung tak bernaung? Entahlah. Aku sendri sering mengabaikannya.
Dalam sebuah artikel, aku membaca bagaimana perjuangan bulan terbentuk. Saat bumi menyapa theira dengan pelukan sekitar 3 miliyar tahun yang lalu, menghasilkan banyak debu yang mengorbit bumi, sampai akhrnya bulan terbentuk dari debu-debu yang menyatu. Butuh banyak perjuangan sampai manusia dapat menikmati hasilnya. Setiap malam meminta sedikit demi sedikit sinar matahari, sampai kami dapat melihatnya secara utuh.
Bulan saja berusaha untuk mencapai purnama. Aku? Jangankan untuk melihatnya, terkadang peduli saja tidak.
“Maaf karena sepanjang hidup aku juga berjuang untuk menjadi mungkin dari banyaknya ketidak mungkinan,”kataku pada bulan purnama yang melihatku pilu.
Tanpa kusadari 1 jam telah berlalu. Berdialog dengan bulan purnama yang jarang kulihat memang asik. Aku berjanji untuk menemuinya lagi tanpa menunggunya mencapai purnama. Ingin melihat bulan berjuang setiap harinya, mengemis cahaya pada matahari sedikit demi sedikit. Tak akan mempermasalahkan sisi gelapnya yang mana membantu ikan untuk melindunginya dari predator.
“Wahai bulan purnama, walau kau mempengaruhi penurunan kadar melatonin di tubuhku, aku akan menunggumu dibulan-bulan berikutnya. Mengurangi sedikit dari banyaknya kekecewaan Tuhan dengan mendoakan dan berusaha bersamamu setiap harinya.”

Share: